
Jakarta, USA Magazine Indonesia
—
Duta Besar
Rusia
untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Vassily A. Nebenzia, meyakini gencatan senjata Israel dan Lebanon yang dimediasi
Amerika Serikat
(AS) hanyalah kedok semata.
Ia mengatakan hal itu saat mengkritik invasi Israel di Lebanon selatan yang tetap lanjut meski gencatan senjata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Gencatan senjata yang dicapai pada 17 April antara Yerusalem Barat dan Beirut, yang dimediasi oleh Washington, sayangnya telah berubah menjadi kedok (untuk agresi Israel terhadap Lebanon),” kata Nebenzia di pertemuan Dewan Keamanan PBB, Selasa (2/6).
Menurut Nebenzia, operasi militer Israel di Lebanon identik dengan agresi Tel Aviv di Jalur Gaza, Palestina. Rumah warga diratakan dan masyarakat diusir paksa.
Nebenzia pun menyimpulkan tindakan ini jelas mengakibatkan perlawanan bersenjata menjadi marak belakangan. Sebab jalan itu dianggap sebagai satu-satunya alternatif dalam menghadapi penjajahan.
“Pendudukan lebih lanjut di Lebanon membawa risiko peningkatan ketegangan etnis dan agama yang berbahaya serta risiko pecahnya perang saudara,” kata Nebenzia, seperti dikutip laman PBB.
“Memburuknya situasi di Lebanon adalah konsekuensi langsung dari agresi yang tidak beralasan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran,” tandasnya.
Israel masih menyerang Lebanon meski sedang gencatan senjata sejak 17 April. Setidaknya 14 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya terluka dalam serangan di dekat Rumah Sakit Jabal Amel, Tyre, pada Senin (1/6).
Sejumlah orang juga tewas dalam serangan terpisah di Kota Braiqaa, Toul, hingga Kfar Sir.
Aksi Israel di Lebanon ini mendorong Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat mengingat gencatan senjata yang mestinya berlaku efektif.
(blq/dna)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Dirjen Imigrasi Buka Suara KPK OTT Kepala Imigrasi Jakarta Barat
Baca lagi: Nego Panas, Iran-AS Kembali Saling Serang sampai Kuwait Jadi Target
Baca lagi: Istana Ungkap Nasib MBG Usai Dadan Cs Dicopot Prabowo dari BGN